Jumlah Pengunjung :
17,032,740
Terbanyak:
68,297
(Selasa, 2 Nopember 2010)
( lengkap )


Membangun Image Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara dengan Konsep "Behind a Powerful Corporate Image"
Kamis, 4 Maret 2010 | Oleh: kukun98 () | 5533 x dibaca

Oleh : Didyk Choiroel*


Pencitraan -- pembangunan image, saat ini menjadi tahapan penting reformasi birokrasi di Ditjen Perbendaharaan. Dalam mengimplementasikan reformasi keuangan negara, setelah penetapan legal basis, pembenahan organisasi, dan revitalisasi sumber daya manusia, selanjutnya adalah mempromosikan perubahan yang lebih baik sebagai impact reformasi.


Dalam mempromosikan perubahan, produk pertama Ditjen Perbendaharaan adalah reformasi metode pelayanan pencairan dana melalui model KPPN Percontohan. Model pencairan dana pada KPPN Percontohan pada dasarnya adalah implementasi pemisahan kewenangan dan mekanisme check and balance dalam sistem perbendaharaan berdasarkan UU No. 1 Tahun 2004. Namun kemudian ternyata, model KPPN Percontohan menjadi alat unggulan untuk membangun image birokrasi Ditjen Perbendaharaan. Image KPPN yang lambat, red tape, birokratis, dan rentan pungli, diputarbalikkan dengan model KPPN Percontohan menjadi cepat, transparan, profesional, dan bersih.


Tetapi ternyata upaya membangun image tersebut tidaklah mudah. Sejak launching KPPN Percontohan pada tahun 2007 sampai dengan saat ini, Ditjen Perbendaharaan berupaya keras membangun image KPPN yang bersih, transparan, profesional dan bersih. Upaya membangun image dilakukan oleh Pimpinan Ditjen Perbendaharaan secara intensif dan dikembangkan oleh Kanwil dan KPPN secara kreatif.


Dari upaya membangun image KPPN tersebut secara sistematis dan efektif, kiranya penting untuk ditinjau aspek teoretisnya. Dalam literatur manajemen dan marketing dikenal konsep behind a powerful corporate image. Dalam konsep tersebut, paling tidak terdapat 5 (lima) kunci sukses membangun image yang powerful, yaitu : mencapai viable fit antara kemampuan organisasi dengan needs and wants target pasar; menemukan talenta organisasi; membangun identitas organisasi; memancarkan image ke segala penjuru; dan, melakukan monitoring dan feedback. Bagaimana memasukkan konsepsi tersebut dalam konteks pembangunan image KPPN, akan diuraikan di bawah ini.


Pertama, mencapai viable fit antara kemampuan organisasi versus needs dan wants target pasar merupakan upaya organisasi sedemikian rupa sehingga mampu memberikan produk dan jasa yang benar-benar memberikan manfaat yang unggul kepada target pasar. Dalam organisasi KPPN target pasarnya adalah satuan kerja yang mengajukan permintaan pencairan dana. Produknya adalah SP2D. Jadi viable fit nya adalah menunjukkan bahwa pencairan dana yang cepat, transparan, profesional dan bersih akan membawa manfaat besar. Ukuran besarnya manfaat inilah yang harus dilakukan penelitian, sehingga dapat disajikan secara kuantitatif. Contohnya berapa tingkat kebocoran anggaran yang tereliminasi dari model KPPN Percontohan, berapa diferensiasi antara proses 3 hari dengan satu jam, dan berapa opportunity cost dan budget benefit dari terbitnya SP2D hari ini dibandingkan tiga hari kemudian.


Kedua, menemukan talenta organisasi, adalah menampilkan inner beauty maupun outer beauty yang dimiliki. Dalam konteks KPPN, inner beauty adalah integritas dan profesionalitas sumber daya manusia, sedangkan outer beauty adalah optimalisasi penggunaan teknologi dan disain lay out kantor. Kedua faktor tersebut harus secara komprehensif secara kasat mata terlekat pada KPPN untuk memperkuat image KPPN.

Ketiga, membangun identitas organisasi adalah memvisualisasikan image ke dalam berbagai macam atribut yang sesuai sehingga dapat dicerna dengan baik oleh target pasar (stakeholder). Untuk KPPN, membangun identitas organisasi tersebut dilakukan dengan membuat motto, logo dan tagline, yang merupakan pernyataan singkat tentang apa dan siapa KPPN sehingga membedakan dengan organisasi lainnya serta merupakan 'penampakan' jati diri organisasi.


Keempat, memancarkan image ke segala penjuru dengan cara melakukan komunikasi pemasaran secara efektif. KPPN, harus melakukan komunikasi pemasaran yang efektif-misalnya melalui iklan dan atau public relation. Hal ini penting karena betapapun keras dan sungguh-sungguh upaya suatu organisasi didalam mengibarkan image, tanpa adanya komunikasi pemasaran yang efektif maka semua itu akan menjadi sia-sia belaka. Komunikasi pemasaran yang efektif dilakukan dengan konsisten, inovatif, penentuan posisi yang tepat, dan pembentukan persepsi yang kuat.


Kelima, monitoring dan feedback, yaitu melakukan pemantauan dan hasil pemantauan tersebut dapat dijadikan sebagai feedback dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya. Dalam membangun image KPPN, perlu dikonfirmasi : apakah telah terbentuk persepsi KPPN (yang bersih, tranparan, profesional dan cepat), tertancap kokoh? Jika jawabnya ya!, maka ‘prestasi' yang telah diraih haruslah dipertahankan secara kontinyu dan konsisten dengan selalu mengingatkan target pasar (stakeholder) melalui berbagai bentuk komunikasi pemasaran sehingga image yang telah powerful tersebut tidak lekang oleh panas dan tiada luntur dikikis hujan.


Berdasarkan kondisi saat ini, substansi kelima kunci behind a powerful corporate image tersebut, saya yakin telah dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan untuk membangun image KPPN. Namun pertanyaannya, apakah kita menerapkan kunci tersebut secara sistematis, komprehensif, dan efektif? Dan selanjutnya, apakah kita tidak perlu membuat strategi developing a powerful image KPPN yang dapat menjadi guideline seluruh KPPN di Indonesia?


* Penulis adalah Kepala KPPN Blitar.

Berita Opini, Artikel, Ulasan Lainnya

Buletin Kinerja sebuah implementasi manajemen kinerja Kementerian Keuangan
Cash and Debt Management: Kebutuhan Untuk Meminimumkan Total Cost of Holding Cash Pemerintah.
EVALUASI PENERAPAN PERENCANAAN KAS di TINGKAT SATUAN KERJA
INVENTARISASI, BIMTEK & SERTIFIKASI PBJ
PELAKSANAAN SOSIALISASI STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN TAHUN 201
  © 2007 - 2014 Direktorat Jenderal Perbendaharaan
  Kementerian Keuangan Republik Indonesia